Rabu, 08 Desember 2010

Rantai Nada, Rantai Cinta ~Tangga Nada Kehidupan~ part 3 , Miii...

~3~ Mi..

                Melo baru saja ingin berlalu pergi, sampe melihat cowo itu seperti meronta-ronta di dalam air, seperti mulai tenggelam. Mungkinkah cowo itu ga bisa berenang? Melo kan rajanya cuek, mau orang jadi gimana juga kadang dia sama sekali ga peduli, apalagi sama kaum adam. Tapi yang kali ini dia kayak di dorong dari belakang buat nolongin cowo itu oleh seseorang. Dia turun dan meletakkan barangnya di pinggiran, terus Melo terjun dan menghampiri cowo itu. Waktu Melo terjun, Melo bisa...berdiri dia atasnya hanya dengan separuh badan di dalem air. ‘DISINI KAN AIRNYA CETEK??!! Kok bisa-bisanya dia tenggelem sih?! Aneh-aneh. Dasar cowok!’, umpat Melo dalam hati.

Melo sekarang udah ikutan basah juga, jadi daripada basahnya sia-sia mendingan Melo deketin tuh cowo. Penasaran, emang dia beneran tenggelem ato kagak? Waktu Melo deketin cowo itu, Melo banyak kecipratan air, seperti ada yang dari meronta-ronta, tapi bukan cowok itu. Waktu Melo dekati ternyata yang meronta-ronta itu….KUCING!!! Kucing itu terus meronta-ronta dan cowok yang tadi itu ga bisa menenangkan kucing tersebut. Melo kaget dan (sangat) kesal karena ternyate CUMA KUCING yang bikin cowok itu keliatan ga bisa berenang. Cowok tersebut juga belum menyadari ada seorang cewe lagi pasang tampang sebel di depannya. Melo lalu segera mengangkat kucing tersebut dari dalam air, lalu kucing itupun berhenti meronta saat sadar kalau dirinya sudah tidak di dalam air, lalu mengeringkan bulunya dengan bergoyang-goyang….memberikan ‘hujan’ untuk Melo dan cowok tersebut. Rasanya Meo pengen banting aja lagi tuh kucing ke air, tapi sekali liat tampang ‘keki’ nya Melo dipasang, cowok yang ada di seberangnya langsung spontan ngambil kucing itu dari tangan Melo, takut kucing tersebut kembali ke pangkuan Sang Pencipta.

Cowok itu tersenyum kearah Melo, dan Melo hanya membalas dengan anggukan kecil (tentu aja dengan tampang bete), lalu Melo berkata, “Naek. Baru ngomong.”, katanya kepada cowok itu. Anehnya cowok itu ga pake loading dulu kayak temen-temennya tapi langsung mendahului Melo buat naik ke tepian, disusul oleh Melo juga. Sampai di tepian Melo nanya (ga lupa dengan tampang keselnya), “Ngapain sih lu nolongin kucing tapi malah lu yang kayak orang tenggelem? Dasar..”, katanya kepada cowok tersebut. Cowok tersebut tidak langsung membalas perkataan Melo, dia mendekati barang-barangnya, lalu mengambil HP dari tasnya, dan mengetik dengan kecepatan super ekstra cepat (kecepatan ticker timer juga kalah), lalu memberikannya kearah Melo.

Melo bingung dan menerima, lalu membaca teks yang tertera disana, “Gue juga ga tau. Hehehehe. Sorry ya lu jadi basah begini, but thanks juga udah mau nolongin gue. Soalnya gue juga tadi spontan loncat aja ngeliat kucing itu kayak mau tenggelam.”, tulis cowok itu kepada Melo. Melo bingung sejenak, lalu berkata, “Ke, kenapa lu ga ngomong langsung aja?”, tanya Melo kepada cowok yang berdiri tegap di sampingnya itu. Sebersit rasa kaget dan sedih bermain di wajah cowok yang tinggi semampai tersebut, lalu mengambil HP nya dan mengetik kembali, lalu diserahkannya lagi ke Melo. “Uuuumm… Gue bisu. Hehe makanya gue pake tulisan di HP, kalo tulis tangan kan lama. Terus kalo gue pake bahasa isyarat lu juga ga tentu ngerti, kan?”, tulisnya. 

‘Bisu.’, pikir Melo dalam hati. “Sory”, kata Melo setelah jeda selama beberapa menit dan lagi-lagi langsung dimengerti oleh pemuda tersebut. Dia membalasnya dengan anggukan dan senyuman, lalu seperti baru teringat sesuatu dia mengambil HP nya lagi dan mengetik kembali menyerahkan kepada Melo. “Siapa nama lu? Kenalan yuk, lu kan yang nolongin gue.”, tulisnya. “Melo, Melody Scarlett. Lu? Bukannya orang harus memperkenalkan dirinya sendiri dulu sebelum ngajakin orang lain kenalan, ya?”, kata Melo lagi kepada cowok itu. “Ehh.. Sorry.. Nama gue Lawrence, Lawrence Allen. Salam kenal, ya… Oh ya, gue umur 20, lu? Gue takut dimarain lagi, jadi gue sebutin dulu. Hehehe.”, tulisnya lagi.  “20? Ok, Kak Lawrence,sebenernya malah nanyain umur itu ga sopan tau.”, jawab Melo. “16.”, katanya lagi.

Lawrence bengong sesaat dan lalu meringis kecil tanpa suara dan kembali mengetik dengan kecepatan super, “Aduh. Tata krama gue masih jelek banget yah? Sampe mesti diajarin sama anak SMA.. 4 tahun di bawah gue lagi… Hehehehe..Ngomong-ngomong panggil Lawrence aja.”, tulisnya lagi. “Iya. Duluan ya.”, kata Melo seraya berdiri dan bersiap untuk pulang ke rumahnya. Namun tiba-tiba Lawrence berdiri dan meraih tangan Melo, seakan memintanya untuk tinggal sebentar, lalu mulai mengetik lagi. “Boleh minta tolong?”, tulisnya kepada Melo. “Apa?”, jawab Melo ½ hati. “Mau nemenin gue ke toko musik? Gue perlu kesana, tapi orang yang jual ga bisa baca bahasa Indonesia, dia orang Jepang, cuma bisa ngomong bahasa Indo doank, ga bisa baca. Boleh?”, tanya Lawrence dalam tulisan. Melo berpikir sejenak, sekarang dia juga tak punya kegiatan, dan biasanya dia paling benci hari Jumat, karena dia tak punya kegiatan setelah pulang sekolah. Sedangkan PR dikerjakannya setelah jam pulang sekolah di sekolah (sekalian ngajarin Feli yang agak-agak….gitu deh sama akademis) atau pada jam istirahat.

“Gue pulang ganti baju dulu.”, jawab Melo kepada Lawrence, dan Lawrence seakan sangat senang, tersenyum secerah mentari yang menyinari mereka (ya tentu aja senyumnya manis banget gitu lho..), lalu mengangkat kedua tangannya, mengangkat kedua jempolnya, dan menaikkan dan menurunkan jempolnya bersama-sama sebanyak 2X. Nampaknya itu adalah salah satu dari bentuk bahasa isyarat, tapi hal itu malah membuat Melo bingung.

“Apa tuh? Ga ngerti bahasa isyarat.”, katanya kepada Lawrence. “Artinya Terima kasih.”, tulis Lawrence di HP nya. “…….Oh Sama-sama. Bawa baju? Ganti baju.”, jawab Melo kepada Lawrence disusul oleh pertanyaan (yang tentunya ga jelas tapi Lawrence ngerti) kepada Lawrence. “Ada kok. Numpang di rumah lu, ya…”, tulisnya lagi. “Cepet.”, kata Melo seraya berlari hampir meninggalkan Lawrence sendirian di pinggir danau. Lawrence kaget, lalu langsung ngibrit untuk mengambil tasnya, sebuah kotak, dan juga…..kuci—.. Kucing yang tadi udah kabur. Ya udah lah, daripada ditinggal sama penyelamat kecil akhirnya Lawrence bodo amat ama tuh kucing (yang tentunya kurang ajar dan mesti diajarin tata krama! (?)). Lawrence langsung…LARIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII!!!!

DI TOKO MUSIK

Irashaimasu… Saya Doumoto Tooru. Apa yang bisa saya bantu?”, kata pemilik toko musik yang terletak di daerah pinggiran Karawaci tersebut. Toko musik tersebut..tidak besar. Hanya toko musik kecil-kecilan, namun nampaknya banyak sekali kenangan dan arti tersendiri untuk tempat ini bagi para pelanggannya, karena itu tempat ini cukup banyak pengunjungnya. “Kami mau cari… Cari apaan?”, tanya Melo kepada pemuda tinggi berkacamata di belakangnya yang sedang terengah-engah dan nampak kelelahan tapi tanpa suara, lalu cowok itu spontan mengambil HP nya dan mengetik, “Bentar. Cape.”, tulis Lawrence. “Ah, kamu. Pemuda bisu yang kemarin datang? Maaf saya tidak bisa baca bahasa Indonesia.”, kata pemilik toko musik tersebut yang bernama ‘senza fine’,  yang dalam bahasa Italia berarti ‘tanpa akhir’ atau ‘without the end’ yang diambil dari Peformance Direction untuk musik, juga sambil membungkuk dalam khas orang Jepang.

Lawrence membalasnya dengan senyuman dan kibasan tangan dan tentunya masih sambil ngos-ngosan. Yah tentu aja Lawrence cape! Lawrence dipaksa naek sepeda (sepeda mamanya Melo) dari rumah Melo kesini, biasanya Lawrence seengaknya naek bus keliling. Kalo enggak jalan kaki di trotoar walaupun harus buang waktu ½ jam jalan kaki, tapi kayaknya kelelahan fisik yang itu lebih sedikit daripada kelelahan mental yang ini! Melo tuh kalo bawa sepeda kayak……..SETAAAN!! Ngebut, dan anehnya dia sama sekali ga nabrak atau nyerempet orang atau apapun... Melo paling jago nyalip mobil kanan-kiri, tapi Lawrence kagak! Dia bisa naek sepeda, kalo sepi. Kalo rame Lawrence ciut duluan, itu bener-bener bikin dia sampe kayak kutu yang ga bisa berkutik.

“Mau ngapain?”, tanya Melo, maksudnya mau ngapain Lawrence kesini. Lawrence masih cape memilih untuk duduk dulu di kursi tinggi yang tersedia disana. Lalu memanggil Melo untuk mendekatinya, lalu dia memberikan HP nya. Melo membaca tulisan yang ada disana, “Betulin woodwind instrument.”, Melo membacakannya kepada Pak Doumoto. “Oh, ok. Lalu tolong gunakan bahasa Inggris untuk masalahnya, dia tidak bisa bahasa Indonesia. Hanya bisa Jerman dan Inggris, dia baru datang dari Berlin.”, kata Pak Doumoto. “Ok, replace the broken pads, ada 2 yang pecah gara-gara jatoh kemaren, dan adjust mechanism.”, tapi Melo pusing sendiri. “Apaan nih? Buset, lu emang maen alat musik apaan sih? Napa begini ribet?”, kata Melo kepada Lawrence. “Hahaha… Wajar kalau kamu tidak mengerti. Ini adalah benda-benda yang hanya bisa dimengerti oleh para pemain alat musik jenis woodwind.”, jelas Pak Doumoto kepada Melo yang masih cengo kayak orang kesambet.

Woodwind, adalah jenis alat musik yang ditiup namun tidak memiliki corong yang besar seperti anggota musik brass (trumpet, tuba, etc.), juga biasanya memiliki reed untuk bisa mengeluarkan suaranya, ada yang single-reed juga ada yang double-reed, namun ada beberapa yang tidak. “Hhhmmm… Kamu bisa tebak pemuda bisa itu main alat musik apa, nak?”, tanya penjaga toko itu ramah. “Oboe? Bukan.. Cor anglais? Bukan, bukan. Terlalu kecil buat orang kayak tiang gitu. Mungkin bassoon? Atau double bassoon? Ah jangan-jangan pan flute? Ah, ga mungkin piccolo..”, kata Melo menjawab dengan acak semua alat musik woodwind yang dia pelajari di teori musik.

“Wah, nak. Kamu tau banyak tentang musik. Tapi apa kamu tau? Kalau sebenarnya pemuda itu bermain alat musi—”, kata-kata penjaga toko tersebut terhenti saat dia melihat Lawrence meletakkan telunjuk kanannya di depan bibirnya sambil tersenyum, maksudnya itu rahasia buat Melo. “Hahaha… Nampaknya kamu itu tidak boleh tau.. Tapi kamu sepertinya bisa bermain alat musik juga ya?”, tanya sang kepala toko, Pak Doumoto. “Piano”, jawab Melo singkat. “Ohh.. Grade?”, tanya Pak Doumoto lagi. “6th grade.”, jawab Melo singkat lagi. “Wow.. Do you join the Royal’s exam? ABRSM right?”, tanya Pak Doumoto lagi, yang ternyata bahasa Inggrisnya bagus, padahal kebanyakan orang Korea dan Jepang bahasa Inggrisnya terlalu terpengaruh oleh dialek mereka, tapi nampaknya Pak Doumoto adalah satu diantara yang bisa melafalkannya dengan baik.

“Yes. Both of them are 6th grade. Haven’t join exam, but will. Theory 2 months later, and practices next year, maybe. I haven’t finish my curriculum.”, jawab Melo kembali menjawab dalam bahasa Inggris yang tentunya, lancaaar. “Wow, that’s sound great, little girl. Oh ya, aku hampir lupa, kemari, coba berikan saja alat musikmu. Biar aku yang membawanya ke tempat reparasi.”, kata Pak Doumoto kepada Lawrence yang sudah (sedikit) nampak lebih segar. Maka Lawrence memberikan kotak tua yang berwarna coklat tua itu kepada Pak Doumoto seraya mengangguk tanda terima kasih, lalu Pak Doumoto masuk ke dalam untuk menyerahkan alat musik tersebut kepada pegawainya.

“…Napa lu?”, tanya Melo kepada Lawrence. “Cape tau.”, tulis Lawrence ekstra cepat kepada Melo. “Tau ah. Emang kenapa mesti di tempat ini? Kan bisa ke toko musik yang laen yang orangnya bisa ngomong Indo. Nyusain lu sendiri tau.”, tanya Melo lagi. “Iya gue tau. Tapi gue pertama kali jatoh cinta sama musik gara-gara kakek yang merupakan papanya Pak Doumoto ini. Namanya Doumoto Shinzou. Nah, dulu itu gue belum bisu, makanya masih bisa ngomong. Dan gue hampir tiap hari kesini kalo pulang sekolah trus ngobrol sampa malem sama kakek.”, cerita Lawrence dalam tulisannya kepada Melo tentang alasannya bersikeras untuk ke toko musik ini.

 “Dulu…belom bisu?”, tanya Melo yang (agak) penasaran sama masa lalu cowok bisu di depannya, karena Lawrence adalah orang bisu pertama yang ditemui Melo. Sedikit.. Walau cuma sedikit Melo dapat melihat perubahan di wajah Lawrence yang baru kenalan dengannya 2 jam yang lalu, yang biasanya selalu senyum, walau tidak berisik (bukan karena tidak mau, tapi ‘tidak bisa’) Melo tau sebenernya Lawrence tipe orang yang pecicilan, mirip sama Keidy. Tapi sayangnya Lawrence tidak bisa mengekspresikannya dengan suara. Melo meliht tatapan mata Lawrence lebih syahdu dan lembut, dan juga lebih menerawang.

“Sory kalo lancang.”, kata Melo tiba-tiba. Disini Melo harus buka suara dulu. “Ga kok. Wajar kalo lu penasaran. Mungkin pada saatnya, tapi bukan pada waktu dekat…”, tulis Lawrence kepada Melo sambil tersenyum sendu. “Iya.”, jawab Melo merasa bersalah karena ga suka dengan wajah dan ekspresi yang terpampang jelas di wajah Lawrence sekarang ini, menerawang seperti mengingat sesuatu yang pahit. “Kenapa lu ga liat-liat aja? Katanya pemusik? Ayoooo… Hehehe..”, tulis Lawrence kepada Melo. “Ck. Terserah.”, Melo mendecakkan lidahnya seraya berjalan meninggalkan Lawrence sendirian di bangku tinggi.

****

"KAKEK!!!", kata seorang anak laki-laki kecil yang berlarian kedalam sebuah toko alat musik yang sederhana. "Hahaha. Kau datang lagi, ya Lawry. Kau nampak sangat menyukai tempat ini?", tanya seorang kakek berkumis putih dengan wajah tersenyum secerah mentari yang menyinari panasnya Jakarta saat itu. "Hehehe. Tentu saja, aku tidak akan tau apa-apa soal musik tanpa tempat ini. Tempat ini yang membuatku menyayangi musik dan alat musikku! aku sangat sayang padanya. Dan itu semua karena tempat ini dan kau, kakek! Aku sayang kakek!! Hehehe...", jawab anak lelaki itu sambil nyengir bahagia, memperlihatkan deretan giginya yang masih ompong-ompong.

"Hahahahaha. Syukurlah kalau memang begitu, aku senang tempat sederhana ini bisa membawa hebahagiaan kepada dirim—UHUK!! UHUK!! Aahh… Dia kembali lagi. uhuk!! Ini mulai menyebalkan.”, kata kakek yang terbatuk-batuk. “Ka, Kakek!! Kakek baik-baik saja? Kakek kenapa? Kakek sakit, ya? Mau kupanggilkan dokter tidak?”, tanya Lawrence kecil dengan takut dan cemas, kakek kesayangannya itu terlihat seperti menderita sebuah penyakit.  “Tidak, Lawry, uhuk. Kakek hanya flu dan batuk biasa kok. Bukan masalah. Hahaha, lalu hari ini ada apa?”, kata kakek kepada Lawrence kecil untuk menghilangkan kecemasan di wajah Lawrence yang kian menjadi saat dia mulai kembali terbatuk-batuk, dan itu mulai sirna saat dia berhasil menjelaskan keadaan palsunya kepada seorang anak kecil yang manis yang berada tepat di depannya dengan mata berbinar-binar dan senyum semanis madu.

“Tidak, kok. Aku hanya ingin mengunjungi kakek. Hehehe…. Wah, sudah jam makan siang! Nampaknya aku harus pulang. Terima kasih kakek… Bye bye..”, kata anak itu sembari berjalan keluar dari toko mungil tersebut sambil melambaikan tangannya. Kakek tersebut, Doumoto Shinzou, membalas lambaian tangan kecil dan tak berdosa dari anak tersebut tentunya sambil tersenyum senang. Penyakit yang menyerangnya –TBC—nampak mulai menampakkan dirinya lagi. Pak Shinzou tampaknya sudah mulai tidak tahan dengan penyakitnya yang kembali menggerogoti sisa nyawanya yang masih tersisa.

“UHUK!! Aduh, mengapa ini? Uhuk!! Dadaku….semakin saki—UHUK! UHUK!!”, Pak Shinzou mulai terbatuk-batuk dan dari mulutnya, keluar darah merah segar. Dia sudah mencapai tahap yang paling parah. “UHUK!! UHUK!! Oh, Tuhan, mungkinkah…aku yang sudah bau tanah ini…masih diberikan..kesempatan untuk…hidup?”, kata Pak Shinzou sambil terengah-engah dan menahan dirinya di meja kasir toko, lalu kemudian tumbang dan jatuh ke tanah dalam keadaan menghadap ke arah kiri tubuhnya. “Ya. Mungkin..76 tahun adalah waktu…UHUK! Yang sudah terlalu..lama buat…orang yang..UHUK!! Hina seper…ti aku…Biar…lah, aku yang….uzur kembali ke…..pangkuan-Mu dengan tenang. Dan bi..arlah…. Dunia ini diter..ruskan oleh..para…kaum muda…seperti.. Lawrence…”, lalu Pak Shinzou menutup matanya untuk selama-lamanya, dan takkan pernah terbuka lagi, sambil tersenyum damai.

1 komentar:

  1. Hoee.... ga bisa sabar buat nunggu kelanjutannya. AYO CEPETAN BUAT MAMEN!!! Khususnya KMBB.... hoeeeeeee (nangis)

    BalasHapus