~2~ Re…
Melo pulang ke rumahnya yang dekat dari tempat les musiknya—— Academy of Harmony and Music. Jadi setiap les Melo pasti pulang pake sepeda. Melo masuk ke rumahnya dan segera masuk ke kamarnya dan mandi, setelah itu Melo akan mengerjakan tugas, lalu makan malam. Walaupun luarnya begini, Melo lumayan jago masak kok. Dia sering masak sendiri kalau mamanya belum pulang dari pekerjaannya yang banyak luar binasa itu. Hari ini yang ada di rumah cuma ada ikan bawal yang kemarin mama beli di pasar tapi belum sempat di masak. Melo agak takut main dengan minyak goreng, alias Melo bisa masak apapun selain yang diggoreng. Karena Melo pernah iseng dating ke dapur, terus tiba-tiba minyak goreng ikan yang sedang digoreng mamanya muncrat kena dia dan luka bakarnya masih ada sampe sekarang di lengan bawah tangan kirinya.
Karena itu untuk mencari aman Melo memilih alternatif lain, yaitu memanggangnya. Panggangannya udah tue buanget… Itu panggangan dari jaman doeloe. Itu warisan punya omanya Melo yang sampe hari ini tetap setia menemani hari-hari dapur mama dan Melo. Dimana Melo tinggal masukkin ikan yang udah ditaroh diatas piring, panasin dengan panas 200
C selama 30 menit (yang biasanya Melo pakai untuk latihan piano, dasar anak tekun gila…), terus keluarin dan kasih bumbu (biasanya kecap manis, kecap asin, madu juga udah enak dan cukup kok), masukin lagi dan tunggu selama 30 menit lagi (yang dipake untuk lanjutin latihan pianonya). Timernya juga udah ada di mesin itu sendiri, dan tentu aja bisa mati sendiri, terus kalo udah berhenti tinggal dicabut, MAKAN!! Jadul sih iya, tapi cukup praktis kok. Dan gampang tentunya… Makanya mamanya Melo berani tinggalin Melo sendirian, karena mereka juga ga punya pembantu.
Melo itu…penyendiri. Kayaknya dia itu ga mirip makhluk sosial, soalnya dia nampak bisa-bisa aja tuh hidup tanpa bantuan orang lain. Selau dingin, bicara seperlunya. Melo itu melankolis sejati deh, kalo ada apa-apa pasti diem, kalo emang lagi perlu dia baru ngomong. Tapi yang ini udah mendingan lho, tadinya dia itu dieeeeem aja dalem suasana apapun. Orang lagi seneng-seneng dapet nilai bagus di sekolah, Melo cuma liat, ngangguk, lipet, masukin ke tas, dan semua itu dia lakukan dengan ekspresi datar. Melo pernah senyum, yaaah… Beberapa kali. Bagi yang mau liat harus liat dia pas ada mamanya juga, P.S : hanya di rumah saja, soalnya Melo sayaaaaang banget sama mamanya. Kalo ga harus ada sesuatu yang menarik dan menyenangkan atau sesuatu yang Melo suka. Tapi sebenernya lebih langka lagi kalo Melo itu….NANGISSS!!!! Melo udah bener-bener tahan banget sama yang namanya kesedihan dan kepahitan hidup. Jadi belum ada yang pernah liat Melo nangis kecuali mamanya.
Makanya sebenernya Feli bersahabat sama Melo ada baeknya juga. Bukan si Feli ngerusak si Melo yang baek-baek, soalnya Feli bokep dan buandeeel… Langganan dia, mah, ke ruang kepala sekolah. Dengan Feli sahabatan dengan Melo, Melo jadi lebih bisa ngomong. Biasanya Melo paliiiiiing irit pake yang namanya suara. Untung Feli juga jadi lebih mending, dari yang bokep dan nakalnya ga tahan, jadi lebih sedikit kalem, abis temenannya ama patung berjalan, sekarang jadi lebih bisa tahan. Apalagi kalo udah ditusukkin keris nancepnya si Melo. ‘JLEB! JLEB! JLEB!!’, diem deh si kaset rusak, Feli dipanggil begitu di SMP ato SMA, abis Feli doyan banget ngomong, tapi suaranya..maap…cempreeeng… hehehehe..
Mama Melo baru pulang jam 10 malam, dimana Melo masih rela nungguin mamanya sambil ngantuk-ngantuk. Abis Melo paling deket sama mamanya, dari dulu semenjak papanya berubah. Waktu mamanya pulang, Melo langsung keluar menyambut mamanya di ruang keluarga, menghambur kearah sang ibu, memeluknya erat. “Mamaa.. Baru pulang mah? Cape ga?”, kata Melo sambil memeluk dan mencium pipi mamanya, Jachinta Alviana, sang single parent yang mengurus Melo seorang diri. “Enggak sayang. Sekarang kan mama udah jadi manager bagian penerimaan barang, gajinya lebih besar dan kantornya jauh lebih deket dari yang dulu. Memang lebih banyak kerjaannya, tapi cape pulang-perginya kan ilang. Udah malem nih.. Melo ga bobo?”, tanya sang ibu cemas kepada putri semata wayangnya. “Enggak kok, ma. Kan Melo mau nungguin mama. Ya udah, deh. Melo bobo, ya. Good night, mama. I love you..”, kata Melo sambil mencium pipinya sekali lagi, lalu beranjak ke kamar, dan memilih untuk langsung merebahkan diri ke ranjang, karena besok adalah hari jumat, masih hari sekolah.
****
“KAMU INI!! APA JUGA GA BISA?! HAH?! ISTRI GA BECUS! MATI AJA KAMU SANAA!!”, *PRANG*, “AAAAAHHH!!! Aduuh.. Ian, sakit..”, terdengarlah suara berat seorang laki-laki yang sedang berteriak, lalu disusul dengan suara pecahan beling yang sangat keras dan suara lembut seorang wanita yang berteriak dan meringis kesakitan sambil memanggil nama laki-laki tersebut, pelan. Seorang gadis kecil nampak menyembul dari balik pintu kayu kamarnya yang sudah reok dan rapuh. Dia takut dan sedih, lalu menangis sendirian, melihat sang ayah memukul ibunya sendiri dengan sebuah botol minuman yang aromanya tidak enak, yang pernah dikatakan mama tidak boleh didekatinya, alcohol. Dia sudah tak kuasa lagi membendung kesedihan dan kemarahannya, lalu berlari menghalangi sang ayah berhadapan langsung dengan sang ibu, hanya dengan tubuhnya yang mungil dan kecil, nampak tak berdaya di hadapan sang ayah.
“Papaaa!! Udah jangan pukulin mama lagi!! Mama kan ga salah apa-apa! Kenapa papa mukulin mama?! Papa jahat!!”,kata anak gadis yang kecil dengan rambutnya yang panjang dan berantakan sambil melindungi mamanya yang tengah kesakitan karena kepalanya bersimbah darah akibat pukulan keras dari ayahnya. “HEH! ANAK KECIL! TAU APA LU??! HAH?! GA USAH GANGGUIN URUSAN ORANG DEWASA!! PERGI SANAAAAA!! KALO GA NURUT GUA BUNUH JUGA LUU!”, kata laki-laki yang mabuk itu kepada sesosok gadis kecil yang rapuh, namun tetap kukuh melindungi sang ibu dari ayahnya yang khilangan kendali. “Ga mau! Pokoknya Melo ga mau pergi! Melo maunya papa berenti mukulin mama!!”, jawab gadis kecil yang bernama Melo tersebut, tetap teguh pada pendiriannya untuk melindungi sang ibu yang tengah memegang kepalanya dan meringis kesakitan.
“Me, Melo.. uuugh… Melody, kamu.. Masuk kamar. Ayo cepet, nak.. Nanti kamu kenapa-napa..”, kata sang ibu kepada anak gadisnya, yang bernama Melody. “Ga mau, ma. Melo ga takut, sama papa sekalipun, karena papa jahat sama mama!”, jawab anak tersebut sambil memeluk sang ibu yang takut, kalau-kalau si ayah yang sudah kehilangan kesadarannya akibat mabuk akan meyakiti putrinya juga seperti dirinya sendiri, dan dia tak mau itu terjadi. “BANYAK BACOT LU BERDUA! NIH, GUA KASIH TIKET GRATIS! NIH TIKET BUAT PERGI KE NERAKAAA!! MATI LUUUU!!”, teriak laki-laki itu sambil mengangkat tongkat yang ada di dekatnya mengambil ancang-ancang untuk memukul kedua orang yang berada di depannya.
****
*KRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINGGGG!!!!!*, bel yang ada di samping ranjang Melo berbunyi, menandakan kalau waktu sudah menunjukkan pk 05.30 WIB. Melo baru terjaga dari tidurnya, lalu segera bangun, mematikan wekernya yang terus berbuyi dengan nyaring, dan melihat keadaan. “Mimpi.. buruk.”, katanya pada dirinya sendiri, merasa lega ternyata itu semua hanyalah mimpi semata. Melo baru saja memimpikan hal yang paling buruk yang pernah terjadi dalam hidupnya, dimana ayahnya baru saja bangkrut dan mulai mabok-mabokan, lalu mulai menyiksa Melo dan mamanya. Dimana setelah 3 hari berlalu mereka memutuskan untuk kabur dari rumah yang penuh penyiksaan itu, dan mama dan Melo menumpang sementara di rumah nenek yang baru saja pindah. Jadi kemungkinan besar kalau ayah Melo tidak akan tau dimana mereka berada, namun tak perlu terlalu was-was juga. Toh, dia juga tak akan susah-susah mencari 2 orang hanya untuk disiksa saja.
“Meloo.. Melo sayang, sudah bangun belum? Sarapannya udah jadi, nih. Turun yuk..”, panggil mama dari bawah. Maka Melo segera beranjak dari ranjangnya dan mencuci mukanya yang masih kusut, dan sedikit ketakutan, agar mama tidak cemas. Saat Melo sudah di bawah mamanya sudah menunggu di meja makan. Lalu Melo menghampiri mamanya dan mencium pipi sang ibu, “Good morning mama.”, sapa Melo singkat setelah mencium pipi mamanya. “Good morning, dear. Nih ayo makan rotinya, ini ada selai kacang yang enak kemarin mama beli di dekat kantor. Kesukaanmu ‘kan? Ayo makan, terus nanti ganti baju, terus kita berangkat.”, kata mama kepada Melo. “OK, ma.”, jawab Melo sambil mengoleskan rotinya dengan selai kacang yang dimaksudkan mamanya, memang yang menjadi favoritnya. “Thank you, ma.”, kata Melo, lalu melanjutkan kalimatnya karena melihat mamanya bengong karena tidak mengerti maksud perkataan Melo apa, “Selai, ma.”, kata Melo lagi.
“Oh.. Iya, iya. Sama-sama Mel. Oh, ya, sebelum mama yang udah rada-rada pikun ini lupa bilang ke kamu, hari ini mama pulang agak malem, ya. Hari ini kamu makan indomie aja, ya. Sori Melody, mama belum bisa masak lagi, abis kerjaan lagi numpuk.”, kata mama kepada Melo. “Gak papa, ma. Mama jangan sampe sakit, ya.”, kata Melo kepada mamanya sambil tersenyum kecil. “Nah, udah belum makannya? Mandi gih cepetan, ntar telat, lho..”, kata mama mengingatkan putrinya untuk bergegas, dan dijawab Melo dengan sebuah anggukan kecil, lalu sesegera mungkin menghabiskan rotinya, dan naik ke kamar untuk mandi dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah.
Melo sampai di sekolahnya, SMA Cahaya Nusa yang ada di daerah Karawaci yang cukup dekat dengan rumahnya, cuma perlu jalan kaki selama 15 menit. Baru ia mauk ke kelasnya—X-4—yang ada di lantai 2, langsung datanglah sang biang rusuh, MASFELINA YITRO!! “GOO…..OOD MORNIII…….IIIING!!! MELOOOOO~~ Masih inget janji kita apa, ‘kan??”, kata Feli memberikan sambutan ‘selamat pagi’ dengan bonus plus-plus hari ini, mengingatkan perjanjian sinting yang mereka sepakati kemarin. “Masih.”, jawab Melo sambil melewati sang biang keladi kerusuhan 2010 X-4 yang ada di depan pintu, untuk menuju bangkunya yang ada di barisan ke-4 dari depan (ada 6 barisan). “Jiah elah, Melo.. Masa lu ga semanget gitu bakal dapet cowo?”, kata Feli kepada Melo (dengan suara yang terlalu keras, tapi yang ada di depannya ga nyadar, yang ngomong apalagi). “Cape. Ngantuk.”, jawab Melo sekedarnya.
“WUUUUUAAAAH!!!! Tadi lu bilang apa, Fel? Melo mau dapet cowo…?? Bintang jatoooohh….”, kata Clarisca, salah satu teman sekelas mereka yang cocok banget sama Feli, karena sama-sama sarap. “Ooohh iya donk.. Siapa dulu strategy masternya? Gue gitu..!! Nih, jadi awalnya gini lho.. Gue bilang gue bakalan dapet 100 di ujian royal nanti. Nah si Melo ga setuju, dia bilang impossible! Jadi gue bilang ke dia, kalo gue dapet 100 dia bakalan jadian sama 1 cowo!! Melo janji kalo gue yang menang dia bakal jadian sama 1 cowo!! Jadian!! MELLLOOOOOOO~~ Udah ada saksinya si Keidy, yang bakal liat tuh orang yang dipilih si Melo cowo apa cewe. Hehehehe… dan karena gue baek, gue kasih pilihannya bebas… Makanya kita perlu saksi. Gitu lho… Gimana? Perfect ga tuh? Excellent kan? Feli gitu lho…”, kata Feli menjelaskan panjang lebar mentok kanan mentok kiri, atas nabrak bawah nabrak kepada semua orang yang penasaran kok bisa-bisanya si Melo, the walking statue, jadian sama cowo. Padahal udah terkenal, KAO ADA COWO MACEM-MACEM DI DEPAN MELO, tinggal nyanyi ‘Bye Bye’nya Mariah Carey aja..
“Hah??!! Keidy yang 1 taon lebih tua dari kita itu?? Yang sekolahnya di bagian internasional, kan? Ya ampuuuun…. Lu kenal dia?? Dia kan cakep dan imuuut banget!! Katanya dia juga suka ngelucu!! Aduuuuh… Feli, kenapa lu ga bilang lu kenal dia? Kenalin dooonk…”, kata Luccy, salah satu anak-anak sarapnya kelas X-4 ini disusul dengan semua anak-anak cewe yang pengen ikut kenalan sama si KOKO KEIDY ini. “Nyesel.”, kata Melo tiba-tiba, membuat 5 anak yang ada di sekelilingnya (Feli, Luccy, Clarisca, Krisanna, dan Joshie) bingung. “Nyesel? Nyesel napa, Mel? Nyesel karena yakin gue bisa dapet 100?”, tanya Feli tiba-tiba. “Luccy bakal nyesel kalo kenalan sama orang kayak Keidy.”, kata Melo, lalu berlalu pergi untuk mencuci mukanya, karena merasa ngantuk.
“Hah? Kenapa nyesel? Melo emang ga waras deh… Cowo sebaek itu dilewatin… Kadang gue sebel sama Melo. Apaan sih, kok kalo kita lagi ngomongin cowo dia selalu aja nimbrung yang ga enak-ga enak. Kalo emang dia ga suka sama cowo ya ga usah bikin rusak suasana, donk! Iiiihh.. Nyebelin!! Lagian gue kira dia lesbi, tau. Masa sampe umur segini dia ga pernah jadian sama cowo manapun? Jangankan jadian suka sama cowo aja ga pernah? Iiiiihhhh….”, kata Clarisca. “Emang lesbi kali tuh anak!”, kata Krisanna menambahkan, lalu semua anak perempuan yang tadi mengerubungi tempat itu tertawa terbahak-bahak, kecuali….Feli.
“Heh! Ga usah ngata-ngatain Melo, ya lu semua. Lu semua kan ga tau alesan Melo itu apa! Ga usah menghakimi gitu, deh.. Kalo emang lu suka ngatain dia dan ngomongin dia pas orangnya lagi ga ada, berarti yang muna itu lu semua tau!!”, sahut Feli tiba-tiba, membela teman baiknya yang dia tau, benci lelaki karena sifat buruk ayahnya dulu. “Ga usah sok ngebelain si Melo, deh, Fel. Jangan-jangan lu yang muna?! Reze banget jadi orang.. Dasar lu! Kurang ajar, ngatain kita muna! Lu tuh yang munaaa!! Udah tau dia benci cowo, kenapa lu nantangin dia buat jadian sama satu cowo? Berarti intinya lu yang muna, kan?”, kata Joshie, cewe yang terkenal tebal make-up setiap sekolah, dan roknya paling pendek satu sekolah, dan paling sering gonta-ganti cowo.
“Heh!! Ondel-ondel salah tempat, ga usah nyari ribut, ya lu!! Gue gampar sekali juga idung lu mengok!!”, teriak Feli marah, temannya di ejek-ejek oleh orang yang paling menyebalkan di sekolah itu, ralat deh…PALING NYEBELIN YANG PERNAH FELI TEMUIN!! “A..Apaan sih??!! Nyebelin banget lu?! Kurang ajar!!”, kata Joshie seraya mau memukul Feli dengan tas (kantong) yang isinya peralatan make-up. Baru saja Feli ingin lari atau menghindar, tiba-tiba sebuah tangan yang halus dan nampak berseni mencengkram lengan Joshie keras. Joshie mencoba meronta sekali dan gagal, dia menengok untuk melihar siapa pelakunya, ternyata itu……Melo. Dan Melo ga dateng sendiri, dia diikuti seorang cowo tinggi nan imut dengan rambut pendek yang acak-acakan dengan senyumnya yang lucu.
“Uweee… Gile. Pagi-pagi buta gini, udah ada yang ribut aje… ga seru ah, masa junior gue berantem mulu pagi-pagi pula… Ckckckckck….”, kata Keidy yang dateng buat nganterin soal latihan Melo dan Feli yang kemaren dikerjakan. “Ke..Keidy!”, panggil Feli kaget. “Hehehehe… Good morning lil’ sis.. Nih hasil latian lu kemaren. Hahaha… As I though you must learn more than all these to got a full marked dear. You want to make Melody in a relationship with a boy, right? You must learn and study pretty hard, ya know.. Hahaha…”, kata Keidy seraya mengacak-ngacak rambut Feli dan memperlakukannya seperti adik kecilnya dan disambut hangat oleh Feli yang memang pengen punya kakak.
Baru saja dia ingin meranjakkan tangannya ke kepala Melo, Melo sudah memberikan tatapan mautnya yang menandakan kalau dia tidak mau dielus-elus. “I..Iya Mel.. Iya… Ini gue mau kasih ini doank kok. Hehehe… Nih.. All Full Marked….. As I thought you smart girl. Always brilliant! Hehehe.. Bye…”, kata Keidy, lalu berlalu pergi ke pintu keluar. Semua anak cewe yang ada disitu, apalagi yang merupakan penggemar rahasianya Keidy, bengooong…. Yah, walaupun menurut Melo Keidy agak-agak freak, apalagi kalo lagi les teori, sebenernya Keidy tuh emang cakep, diatas rata-rata, dan tentunya terkenal booo… Baru aja para fans rahasia Keidy mau teriak heboh-hebohan, eeeeeehhh…. Datenglah guru sejarah yang menjadi pelajaran pertama di hari Jumat ini. Dan tentu saja, Pak Rentra, si guru Pitecanthorupus Erectus, karena paling demen nerangin begituan, yang GUALAK kaya anjing lepas kandang membuat anak-anak spontan balik ke tempat duduk masing-masing. Abis kalo Pak Rendra marah sampe si kepala sekolah—Pak Plontos—aja takut, cuma bisa iya, iya, ngangguk-ngangguk gaje.
Tentunya sepanjang hari ini gengnya Joshie berperang dingin dengan Melo dan Feli. Makanya Feli dan Melo pengeeeeeen banget hari ini cepet selesai, cape tau bersitegang sama geng yang paling populer di sekolah!! Makanya waktu jam menunjukkan pk 15.15, rasanya mereka udah kayak tawanan yang akhirnya dibebasin setelah 15 tahun. Melo pulang jalan kaki lagi panas-panas begini, sedangkan Feli enak dianterin naek mobil, padahal sebenernya jarak rumah Melo dan Feli ga beda jauh kok. Cuma beda komplek perumahan yang jaraknya ga nyampe 10 menit naek mobil, tapi emang keluarga Feli emang kaya sih, jadi kemana-mana pake mobil. Melo sering ditawarin buat ikut naek mobil sampe ke rumah, tapi Melo selalu nolak. Dia emang anaknya suka ga enakan hati sih…
Rumah Melo terletak di Perumahan Blue Rhapsody, sedangkan rumah Feli di Perumahan Chrysantenum. Letaknya berdekatan, berada di daerah Karawaci. Perumahan Blue Rhapsody adalah salah satu perumahan untuk bagian menengah keatas yang cukup elit dan mahal. Melo dan mamanya memang tidak kaya, semua serba pas-pasan, hal utama yang membuat mereka seperti itu bukanlah karena jenis pekerjaan mama. Jenis pekerjaan mamanya—Bu Jachinta, mempunyai gaji yang cukup tinggi karena Bu Jachinta sekolah sampai sarjana S2. Namun sebenarnya itu karena Bu Jachinta mau putrinya belajar berbagai macam hal agar dapat bertahan hidup di ganasnya persaingan hidup masa kini dan masa depan karena persaingan tersebut akan semakin menjadi ganas sembari bertambahnya waktu.
Rumah di perumahan itu sendiri adalah rumah yang diberikan dari pihak kantor untuk Bu Jachinta yang menolak hak kantor mobil (toh kalo dapet mobil ga bakalan kepake, ga ada yang bisa nyetir) dan menggantinya dengan hak rumah tinggal dari kantor, dan dikabulkan karena peforma kerjanya baik. Maka itulah sekarang mereka tinggal di perumahan ini. Perumahan Blue Rhapsody sangat nyaman dan homey, banyak taman yang penuh bunga dan tanaman yang teratur dan rapih sekali, juga ada sebuah danau yang biasanya bersih dan tidak ada hewan. Sedangkan ada sebuah danau lagi yang memang dikhususkan untuk hewan.
Melo lebih senang pergi ke danau yang tidak ada hewan, dan hari ini dia pasti melewati tempat itu lagi. Karena untuk pulang harus melewati akses tersebut. Melo sedang menerawang langit biru yang berawan tipis, “Blue is a comfortable co—”, ucapannya terhenti ketika ia dikejutkan oleh suara air yang keras, sepeti ada sesuatu yang besar terbanting ke dalam air. *BYUUUUUUUURRR!!!!*. Melo bisa melihat seorang pemuda dalam balutan kemejanya lagi meronta-ronta di dalam air, sambil memegang sesuatu yang tidak jelas apa karena banyak cipratan air. Melo baru saja ingin pergi, namun pemuda itu nampak seperti tenggelam….jangan-jangan….COWO ITU GA BISA BERENANG??!!!
Please your comment...
BalasHapus