Rabu, 08 Desember 2010

Rantai Nada, Rantai Cinta ~Tangga Nada Kehidupan~ part 3 , Miii...

~3~ Mi..

                Melo baru saja ingin berlalu pergi, sampe melihat cowo itu seperti meronta-ronta di dalam air, seperti mulai tenggelam. Mungkinkah cowo itu ga bisa berenang? Melo kan rajanya cuek, mau orang jadi gimana juga kadang dia sama sekali ga peduli, apalagi sama kaum adam. Tapi yang kali ini dia kayak di dorong dari belakang buat nolongin cowo itu oleh seseorang. Dia turun dan meletakkan barangnya di pinggiran, terus Melo terjun dan menghampiri cowo itu. Waktu Melo terjun, Melo bisa...berdiri dia atasnya hanya dengan separuh badan di dalem air. ‘DISINI KAN AIRNYA CETEK??!! Kok bisa-bisanya dia tenggelem sih?! Aneh-aneh. Dasar cowok!’, umpat Melo dalam hati.

Melo sekarang udah ikutan basah juga, jadi daripada basahnya sia-sia mendingan Melo deketin tuh cowo. Penasaran, emang dia beneran tenggelem ato kagak? Waktu Melo deketin cowo itu, Melo banyak kecipratan air, seperti ada yang dari meronta-ronta, tapi bukan cowok itu. Waktu Melo dekati ternyata yang meronta-ronta itu….KUCING!!! Kucing itu terus meronta-ronta dan cowok yang tadi itu ga bisa menenangkan kucing tersebut. Melo kaget dan (sangat) kesal karena ternyate CUMA KUCING yang bikin cowok itu keliatan ga bisa berenang. Cowok tersebut juga belum menyadari ada seorang cewe lagi pasang tampang sebel di depannya. Melo lalu segera mengangkat kucing tersebut dari dalam air, lalu kucing itupun berhenti meronta saat sadar kalau dirinya sudah tidak di dalam air, lalu mengeringkan bulunya dengan bergoyang-goyang….memberikan ‘hujan’ untuk Melo dan cowok tersebut. Rasanya Meo pengen banting aja lagi tuh kucing ke air, tapi sekali liat tampang ‘keki’ nya Melo dipasang, cowok yang ada di seberangnya langsung spontan ngambil kucing itu dari tangan Melo, takut kucing tersebut kembali ke pangkuan Sang Pencipta.

Cowok itu tersenyum kearah Melo, dan Melo hanya membalas dengan anggukan kecil (tentu aja dengan tampang bete), lalu Melo berkata, “Naek. Baru ngomong.”, katanya kepada cowok itu. Anehnya cowok itu ga pake loading dulu kayak temen-temennya tapi langsung mendahului Melo buat naik ke tepian, disusul oleh Melo juga. Sampai di tepian Melo nanya (ga lupa dengan tampang keselnya), “Ngapain sih lu nolongin kucing tapi malah lu yang kayak orang tenggelem? Dasar..”, katanya kepada cowok tersebut. Cowok tersebut tidak langsung membalas perkataan Melo, dia mendekati barang-barangnya, lalu mengambil HP dari tasnya, dan mengetik dengan kecepatan super ekstra cepat (kecepatan ticker timer juga kalah), lalu memberikannya kearah Melo.

Melo bingung dan menerima, lalu membaca teks yang tertera disana, “Gue juga ga tau. Hehehehe. Sorry ya lu jadi basah begini, but thanks juga udah mau nolongin gue. Soalnya gue juga tadi spontan loncat aja ngeliat kucing itu kayak mau tenggelam.”, tulis cowok itu kepada Melo. Melo bingung sejenak, lalu berkata, “Ke, kenapa lu ga ngomong langsung aja?”, tanya Melo kepada cowok yang berdiri tegap di sampingnya itu. Sebersit rasa kaget dan sedih bermain di wajah cowok yang tinggi semampai tersebut, lalu mengambil HP nya dan mengetik kembali, lalu diserahkannya lagi ke Melo. “Uuuumm… Gue bisu. Hehe makanya gue pake tulisan di HP, kalo tulis tangan kan lama. Terus kalo gue pake bahasa isyarat lu juga ga tentu ngerti, kan?”, tulisnya. 

‘Bisu.’, pikir Melo dalam hati. “Sory”, kata Melo setelah jeda selama beberapa menit dan lagi-lagi langsung dimengerti oleh pemuda tersebut. Dia membalasnya dengan anggukan dan senyuman, lalu seperti baru teringat sesuatu dia mengambil HP nya lagi dan mengetik kembali menyerahkan kepada Melo. “Siapa nama lu? Kenalan yuk, lu kan yang nolongin gue.”, tulisnya. “Melo, Melody Scarlett. Lu? Bukannya orang harus memperkenalkan dirinya sendiri dulu sebelum ngajakin orang lain kenalan, ya?”, kata Melo lagi kepada cowok itu. “Ehh.. Sorry.. Nama gue Lawrence, Lawrence Allen. Salam kenal, ya… Oh ya, gue umur 20, lu? Gue takut dimarain lagi, jadi gue sebutin dulu. Hehehe.”, tulisnya lagi.  “20? Ok, Kak Lawrence,sebenernya malah nanyain umur itu ga sopan tau.”, jawab Melo. “16.”, katanya lagi.

Lawrence bengong sesaat dan lalu meringis kecil tanpa suara dan kembali mengetik dengan kecepatan super, “Aduh. Tata krama gue masih jelek banget yah? Sampe mesti diajarin sama anak SMA.. 4 tahun di bawah gue lagi… Hehehehe..Ngomong-ngomong panggil Lawrence aja.”, tulisnya lagi. “Iya. Duluan ya.”, kata Melo seraya berdiri dan bersiap untuk pulang ke rumahnya. Namun tiba-tiba Lawrence berdiri dan meraih tangan Melo, seakan memintanya untuk tinggal sebentar, lalu mulai mengetik lagi. “Boleh minta tolong?”, tulisnya kepada Melo. “Apa?”, jawab Melo ½ hati. “Mau nemenin gue ke toko musik? Gue perlu kesana, tapi orang yang jual ga bisa baca bahasa Indonesia, dia orang Jepang, cuma bisa ngomong bahasa Indo doank, ga bisa baca. Boleh?”, tanya Lawrence dalam tulisan. Melo berpikir sejenak, sekarang dia juga tak punya kegiatan, dan biasanya dia paling benci hari Jumat, karena dia tak punya kegiatan setelah pulang sekolah. Sedangkan PR dikerjakannya setelah jam pulang sekolah di sekolah (sekalian ngajarin Feli yang agak-agak….gitu deh sama akademis) atau pada jam istirahat.

“Gue pulang ganti baju dulu.”, jawab Melo kepada Lawrence, dan Lawrence seakan sangat senang, tersenyum secerah mentari yang menyinari mereka (ya tentu aja senyumnya manis banget gitu lho..), lalu mengangkat kedua tangannya, mengangkat kedua jempolnya, dan menaikkan dan menurunkan jempolnya bersama-sama sebanyak 2X. Nampaknya itu adalah salah satu dari bentuk bahasa isyarat, tapi hal itu malah membuat Melo bingung.

“Apa tuh? Ga ngerti bahasa isyarat.”, katanya kepada Lawrence. “Artinya Terima kasih.”, tulis Lawrence di HP nya. “…….Oh Sama-sama. Bawa baju? Ganti baju.”, jawab Melo kepada Lawrence disusul oleh pertanyaan (yang tentunya ga jelas tapi Lawrence ngerti) kepada Lawrence. “Ada kok. Numpang di rumah lu, ya…”, tulisnya lagi. “Cepet.”, kata Melo seraya berlari hampir meninggalkan Lawrence sendirian di pinggir danau. Lawrence kaget, lalu langsung ngibrit untuk mengambil tasnya, sebuah kotak, dan juga…..kuci—.. Kucing yang tadi udah kabur. Ya udah lah, daripada ditinggal sama penyelamat kecil akhirnya Lawrence bodo amat ama tuh kucing (yang tentunya kurang ajar dan mesti diajarin tata krama! (?)). Lawrence langsung…LARIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII!!!!

DI TOKO MUSIK

Irashaimasu… Saya Doumoto Tooru. Apa yang bisa saya bantu?”, kata pemilik toko musik yang terletak di daerah pinggiran Karawaci tersebut. Toko musik tersebut..tidak besar. Hanya toko musik kecil-kecilan, namun nampaknya banyak sekali kenangan dan arti tersendiri untuk tempat ini bagi para pelanggannya, karena itu tempat ini cukup banyak pengunjungnya. “Kami mau cari… Cari apaan?”, tanya Melo kepada pemuda tinggi berkacamata di belakangnya yang sedang terengah-engah dan nampak kelelahan tapi tanpa suara, lalu cowok itu spontan mengambil HP nya dan mengetik, “Bentar. Cape.”, tulis Lawrence. “Ah, kamu. Pemuda bisu yang kemarin datang? Maaf saya tidak bisa baca bahasa Indonesia.”, kata pemilik toko musik tersebut yang bernama ‘senza fine’,  yang dalam bahasa Italia berarti ‘tanpa akhir’ atau ‘without the end’ yang diambil dari Peformance Direction untuk musik, juga sambil membungkuk dalam khas orang Jepang.

Lawrence membalasnya dengan senyuman dan kibasan tangan dan tentunya masih sambil ngos-ngosan. Yah tentu aja Lawrence cape! Lawrence dipaksa naek sepeda (sepeda mamanya Melo) dari rumah Melo kesini, biasanya Lawrence seengaknya naek bus keliling. Kalo enggak jalan kaki di trotoar walaupun harus buang waktu ½ jam jalan kaki, tapi kayaknya kelelahan fisik yang itu lebih sedikit daripada kelelahan mental yang ini! Melo tuh kalo bawa sepeda kayak……..SETAAAN!! Ngebut, dan anehnya dia sama sekali ga nabrak atau nyerempet orang atau apapun... Melo paling jago nyalip mobil kanan-kiri, tapi Lawrence kagak! Dia bisa naek sepeda, kalo sepi. Kalo rame Lawrence ciut duluan, itu bener-bener bikin dia sampe kayak kutu yang ga bisa berkutik.

“Mau ngapain?”, tanya Melo, maksudnya mau ngapain Lawrence kesini. Lawrence masih cape memilih untuk duduk dulu di kursi tinggi yang tersedia disana. Lalu memanggil Melo untuk mendekatinya, lalu dia memberikan HP nya. Melo membaca tulisan yang ada disana, “Betulin woodwind instrument.”, Melo membacakannya kepada Pak Doumoto. “Oh, ok. Lalu tolong gunakan bahasa Inggris untuk masalahnya, dia tidak bisa bahasa Indonesia. Hanya bisa Jerman dan Inggris, dia baru datang dari Berlin.”, kata Pak Doumoto. “Ok, replace the broken pads, ada 2 yang pecah gara-gara jatoh kemaren, dan adjust mechanism.”, tapi Melo pusing sendiri. “Apaan nih? Buset, lu emang maen alat musik apaan sih? Napa begini ribet?”, kata Melo kepada Lawrence. “Hahaha… Wajar kalau kamu tidak mengerti. Ini adalah benda-benda yang hanya bisa dimengerti oleh para pemain alat musik jenis woodwind.”, jelas Pak Doumoto kepada Melo yang masih cengo kayak orang kesambet.

Woodwind, adalah jenis alat musik yang ditiup namun tidak memiliki corong yang besar seperti anggota musik brass (trumpet, tuba, etc.), juga biasanya memiliki reed untuk bisa mengeluarkan suaranya, ada yang single-reed juga ada yang double-reed, namun ada beberapa yang tidak. “Hhhmmm… Kamu bisa tebak pemuda bisa itu main alat musik apa, nak?”, tanya penjaga toko itu ramah. “Oboe? Bukan.. Cor anglais? Bukan, bukan. Terlalu kecil buat orang kayak tiang gitu. Mungkin bassoon? Atau double bassoon? Ah jangan-jangan pan flute? Ah, ga mungkin piccolo..”, kata Melo menjawab dengan acak semua alat musik woodwind yang dia pelajari di teori musik.

“Wah, nak. Kamu tau banyak tentang musik. Tapi apa kamu tau? Kalau sebenarnya pemuda itu bermain alat musi—”, kata-kata penjaga toko tersebut terhenti saat dia melihat Lawrence meletakkan telunjuk kanannya di depan bibirnya sambil tersenyum, maksudnya itu rahasia buat Melo. “Hahaha… Nampaknya kamu itu tidak boleh tau.. Tapi kamu sepertinya bisa bermain alat musik juga ya?”, tanya sang kepala toko, Pak Doumoto. “Piano”, jawab Melo singkat. “Ohh.. Grade?”, tanya Pak Doumoto lagi. “6th grade.”, jawab Melo singkat lagi. “Wow.. Do you join the Royal’s exam? ABRSM right?”, tanya Pak Doumoto lagi, yang ternyata bahasa Inggrisnya bagus, padahal kebanyakan orang Korea dan Jepang bahasa Inggrisnya terlalu terpengaruh oleh dialek mereka, tapi nampaknya Pak Doumoto adalah satu diantara yang bisa melafalkannya dengan baik.

“Yes. Both of them are 6th grade. Haven’t join exam, but will. Theory 2 months later, and practices next year, maybe. I haven’t finish my curriculum.”, jawab Melo kembali menjawab dalam bahasa Inggris yang tentunya, lancaaar. “Wow, that’s sound great, little girl. Oh ya, aku hampir lupa, kemari, coba berikan saja alat musikmu. Biar aku yang membawanya ke tempat reparasi.”, kata Pak Doumoto kepada Lawrence yang sudah (sedikit) nampak lebih segar. Maka Lawrence memberikan kotak tua yang berwarna coklat tua itu kepada Pak Doumoto seraya mengangguk tanda terima kasih, lalu Pak Doumoto masuk ke dalam untuk menyerahkan alat musik tersebut kepada pegawainya.

“…Napa lu?”, tanya Melo kepada Lawrence. “Cape tau.”, tulis Lawrence ekstra cepat kepada Melo. “Tau ah. Emang kenapa mesti di tempat ini? Kan bisa ke toko musik yang laen yang orangnya bisa ngomong Indo. Nyusain lu sendiri tau.”, tanya Melo lagi. “Iya gue tau. Tapi gue pertama kali jatoh cinta sama musik gara-gara kakek yang merupakan papanya Pak Doumoto ini. Namanya Doumoto Shinzou. Nah, dulu itu gue belum bisu, makanya masih bisa ngomong. Dan gue hampir tiap hari kesini kalo pulang sekolah trus ngobrol sampa malem sama kakek.”, cerita Lawrence dalam tulisannya kepada Melo tentang alasannya bersikeras untuk ke toko musik ini.

 “Dulu…belom bisu?”, tanya Melo yang (agak) penasaran sama masa lalu cowok bisu di depannya, karena Lawrence adalah orang bisu pertama yang ditemui Melo. Sedikit.. Walau cuma sedikit Melo dapat melihat perubahan di wajah Lawrence yang baru kenalan dengannya 2 jam yang lalu, yang biasanya selalu senyum, walau tidak berisik (bukan karena tidak mau, tapi ‘tidak bisa’) Melo tau sebenernya Lawrence tipe orang yang pecicilan, mirip sama Keidy. Tapi sayangnya Lawrence tidak bisa mengekspresikannya dengan suara. Melo meliht tatapan mata Lawrence lebih syahdu dan lembut, dan juga lebih menerawang.

“Sory kalo lancang.”, kata Melo tiba-tiba. Disini Melo harus buka suara dulu. “Ga kok. Wajar kalo lu penasaran. Mungkin pada saatnya, tapi bukan pada waktu dekat…”, tulis Lawrence kepada Melo sambil tersenyum sendu. “Iya.”, jawab Melo merasa bersalah karena ga suka dengan wajah dan ekspresi yang terpampang jelas di wajah Lawrence sekarang ini, menerawang seperti mengingat sesuatu yang pahit. “Kenapa lu ga liat-liat aja? Katanya pemusik? Ayoooo… Hehehe..”, tulis Lawrence kepada Melo. “Ck. Terserah.”, Melo mendecakkan lidahnya seraya berjalan meninggalkan Lawrence sendirian di bangku tinggi.

****

"KAKEK!!!", kata seorang anak laki-laki kecil yang berlarian kedalam sebuah toko alat musik yang sederhana. "Hahaha. Kau datang lagi, ya Lawry. Kau nampak sangat menyukai tempat ini?", tanya seorang kakek berkumis putih dengan wajah tersenyum secerah mentari yang menyinari panasnya Jakarta saat itu. "Hehehe. Tentu saja, aku tidak akan tau apa-apa soal musik tanpa tempat ini. Tempat ini yang membuatku menyayangi musik dan alat musikku! aku sangat sayang padanya. Dan itu semua karena tempat ini dan kau, kakek! Aku sayang kakek!! Hehehe...", jawab anak lelaki itu sambil nyengir bahagia, memperlihatkan deretan giginya yang masih ompong-ompong.

"Hahahahaha. Syukurlah kalau memang begitu, aku senang tempat sederhana ini bisa membawa hebahagiaan kepada dirim—UHUK!! UHUK!! Aahh… Dia kembali lagi. uhuk!! Ini mulai menyebalkan.”, kata kakek yang terbatuk-batuk. “Ka, Kakek!! Kakek baik-baik saja? Kakek kenapa? Kakek sakit, ya? Mau kupanggilkan dokter tidak?”, tanya Lawrence kecil dengan takut dan cemas, kakek kesayangannya itu terlihat seperti menderita sebuah penyakit.  “Tidak, Lawry, uhuk. Kakek hanya flu dan batuk biasa kok. Bukan masalah. Hahaha, lalu hari ini ada apa?”, kata kakek kepada Lawrence kecil untuk menghilangkan kecemasan di wajah Lawrence yang kian menjadi saat dia mulai kembali terbatuk-batuk, dan itu mulai sirna saat dia berhasil menjelaskan keadaan palsunya kepada seorang anak kecil yang manis yang berada tepat di depannya dengan mata berbinar-binar dan senyum semanis madu.

“Tidak, kok. Aku hanya ingin mengunjungi kakek. Hehehe…. Wah, sudah jam makan siang! Nampaknya aku harus pulang. Terima kasih kakek… Bye bye..”, kata anak itu sembari berjalan keluar dari toko mungil tersebut sambil melambaikan tangannya. Kakek tersebut, Doumoto Shinzou, membalas lambaian tangan kecil dan tak berdosa dari anak tersebut tentunya sambil tersenyum senang. Penyakit yang menyerangnya –TBC—nampak mulai menampakkan dirinya lagi. Pak Shinzou tampaknya sudah mulai tidak tahan dengan penyakitnya yang kembali menggerogoti sisa nyawanya yang masih tersisa.

“UHUK!! Aduh, mengapa ini? Uhuk!! Dadaku….semakin saki—UHUK! UHUK!!”, Pak Shinzou mulai terbatuk-batuk dan dari mulutnya, keluar darah merah segar. Dia sudah mencapai tahap yang paling parah. “UHUK!! UHUK!! Oh, Tuhan, mungkinkah…aku yang sudah bau tanah ini…masih diberikan..kesempatan untuk…hidup?”, kata Pak Shinzou sambil terengah-engah dan menahan dirinya di meja kasir toko, lalu kemudian tumbang dan jatuh ke tanah dalam keadaan menghadap ke arah kiri tubuhnya. “Ya. Mungkin..76 tahun adalah waktu…UHUK! Yang sudah terlalu..lama buat…orang yang..UHUK!! Hina seper…ti aku…Biar…lah, aku yang….uzur kembali ke…..pangkuan-Mu dengan tenang. Dan bi..arlah…. Dunia ini diter..ruskan oleh..para…kaum muda…seperti.. Lawrence…”, lalu Pak Shinzou menutup matanya untuk selama-lamanya, dan takkan pernah terbuka lagi, sambil tersenyum damai.

Senin, 06 Desember 2010

Rantai Nada, Rantai Cinta ~Tangga Nada Kehidupan~ Part 2, Re...

~2~ Re…

   Melo pulang ke rumahnya yang dekat dari tempat les musiknya— Academy of Harmony and Music. Jadi setiap les Melo pasti pulang pake sepeda. Melo masuk ke rumahnya dan segera masuk ke kamarnya dan mandi, setelah itu Melo akan mengerjakan tugas, lalu makan malam. Walaupun luarnya begini, Melo lumayan jago masak kok. Dia sering masak sendiri kalau mamanya belum pulang dari pekerjaannya yang banyak luar binasa itu. Hari ini yang ada di rumah cuma ada ikan bawal yang kemarin mama beli di pasar tapi belum sempat di masak. Melo agak takut main dengan minyak goreng, alias Melo bisa masak apapun selain yang diggoreng. Karena Melo pernah iseng dating ke dapur, terus tiba-tiba minyak goreng ikan yang sedang digoreng mamanya muncrat kena dia dan luka bakarnya masih ada sampe sekarang di lengan bawah tangan kirinya.

Karena itu untuk mencari aman Melo memilih alternatif lain, yaitu memanggangnya. Panggangannya udah tue buanget… Itu panggangan dari jaman doeloe. Itu warisan punya omanya Melo yang sampe hari ini tetap setia menemani hari-hari dapur mama dan Melo. Dimana Melo tinggal masukkin ikan yang udah ditaroh diatas piring, panasin dengan panas 200C selama 30 menit (yang biasanya Melo pakai untuk latihan piano, dasar anak tekun gila…), terus keluarin dan kasih bumbu (biasanya kecap manis, kecap asin, madu juga udah enak dan cukup kok), masukin lagi dan tunggu selama 30 menit lagi (yang dipake untuk lanjutin latihan pianonya). Timernya juga udah ada di mesin itu sendiri, dan tentu aja bisa mati sendiri, terus kalo udah berhenti tinggal dicabut, MAKAN!! Jadul sih iya, tapi cukup praktis kok. Dan gampang tentunya… Makanya mamanya Melo berani tinggalin Melo sendirian, karena mereka juga ga punya pembantu.

Melo itu…penyendiri. Kayaknya dia itu ga mirip makhluk sosial, soalnya dia nampak bisa-bisa aja tuh hidup tanpa bantuan orang lain. Selau dingin, bicara seperlunya. Melo itu melankolis sejati deh, kalo ada apa-apa pasti diem, kalo emang lagi perlu dia baru ngomong. Tapi yang ini udah mendingan lho, tadinya dia itu dieeeeem aja dalem suasana apapun. Orang lagi seneng-seneng dapet nilai bagus di sekolah, Melo cuma liat, ngangguk, lipet, masukin ke tas, dan semua itu dia lakukan dengan ekspresi datar. Melo pernah senyum, yaaah… Beberapa kali. Bagi yang mau liat harus liat dia pas ada mamanya juga, P.S : hanya di rumah saja, soalnya Melo sayaaaaang banget sama mamanya. Kalo ga harus ada sesuatu yang menarik dan menyenangkan atau sesuatu yang Melo suka. Tapi sebenernya lebih langka lagi kalo Melo itu….NANGISSS!!!! Melo udah bener-bener tahan banget sama yang namanya kesedihan dan kepahitan hidup. Jadi belum ada yang pernah liat Melo nangis kecuali mamanya.

Makanya sebenernya Feli bersahabat sama Melo ada baeknya juga. Bukan si Feli ngerusak si Melo yang baek-baek, soalnya Feli bokep dan buandeeel… Langganan dia, mah, ke ruang kepala sekolah. Dengan Feli sahabatan dengan Melo, Melo jadi lebih bisa ngomong. Biasanya Melo paliiiiiing irit pake yang namanya suara. Untung Feli juga jadi lebih mending, dari yang bokep dan nakalnya ga tahan, jadi lebih sedikit kalem, abis temenannya ama patung berjalan, sekarang jadi lebih bisa tahan. Apalagi kalo udah ditusukkin keris nancepnya si Melo. ‘JLEB! JLEB! JLEB!!’, diem deh si kaset rusak, Feli dipanggil begitu di SMP ato SMA, abis Feli doyan banget ngomong, tapi suaranya..maap…cempreeeng… hehehehe..

Mama Melo baru pulang jam 10 malam, dimana Melo masih rela nungguin mamanya sambil ngantuk-ngantuk. Abis Melo paling deket sama mamanya, dari dulu semenjak papanya berubah. Waktu mamanya pulang, Melo langsung keluar menyambut mamanya di ruang keluarga, menghambur kearah sang ibu, memeluknya erat. “Mamaa.. Baru pulang mah? Cape ga?”, kata Melo sambil memeluk dan mencium pipi mamanya, Jachinta Alviana, sang single parent yang mengurus Melo seorang diri. “Enggak sayang. Sekarang kan mama udah jadi manager bagian penerimaan barang, gajinya lebih besar dan kantornya jauh lebih deket dari yang dulu. Memang lebih banyak kerjaannya, tapi cape pulang-perginya kan ilang. Udah malem nih.. Melo ga bobo?”, tanya sang ibu cemas kepada putri semata wayangnya. “Enggak kok, ma. Kan Melo mau nungguin mama. Ya udah, deh. Melo bobo, ya. Good night, mama. I love you..”, kata Melo sambil mencium pipinya sekali lagi, lalu beranjak ke kamar, dan memilih untuk langsung merebahkan diri ke ranjang, karena besok adalah hari jumat, masih hari sekolah.

****
“KAMU INI!! APA JUGA GA BISA?! HAH?! ISTRI GA BECUS! MATI AJA KAMU SANAA!!”, *PRANG*, “AAAAAHHH!!! Aduuh.. Ian, sakit..”, terdengarlah suara berat seorang laki-laki yang sedang berteriak, lalu disusul dengan suara pecahan beling yang sangat keras dan suara lembut seorang wanita yang berteriak dan meringis kesakitan sambil memanggil nama laki-laki tersebut, pelan. Seorang gadis kecil nampak menyembul dari balik pintu kayu kamarnya yang sudah reok dan rapuh. Dia takut dan sedih, lalu menangis sendirian, melihat sang ayah memukul ibunya sendiri dengan sebuah botol minuman yang aromanya tidak enak, yang pernah dikatakan mama tidak boleh didekatinya, alcohol. Dia sudah tak kuasa lagi membendung kesedihan dan kemarahannya, lalu berlari menghalangi sang ayah berhadapan langsung dengan sang ibu, hanya dengan tubuhnya yang mungil dan kecil, nampak tak berdaya di hadapan sang ayah.

“Papaaa!! Udah jangan pukulin mama lagi!! Mama kan ga salah apa-apa! Kenapa papa mukulin mama?! Papa jahat!!”,kata anak gadis yang kecil dengan rambutnya yang panjang dan berantakan sambil melindungi mamanya yang tengah kesakitan karena kepalanya bersimbah darah akibat pukulan keras dari ayahnya. “HEH! ANAK KECIL! TAU APA LU??! HAH?! GA USAH GANGGUIN URUSAN ORANG DEWASA!! PERGI SANAAAAA!! KALO GA NURUT GUA BUNUH JUGA LUU!”, kata laki-laki yang mabuk itu kepada sesosok gadis kecil yang rapuh, namun tetap kukuh melindungi sang ibu dari ayahnya yang khilangan kendali. “Ga mau! Pokoknya Melo ga mau pergi! Melo maunya papa berenti mukulin mama!!”, jawab gadis kecil yang bernama Melo tersebut, tetap teguh pada pendiriannya untuk melindungi sang ibu yang tengah memegang kepalanya dan meringis kesakitan.

“Me, Melo.. uuugh… Melody, kamu.. Masuk kamar. Ayo cepet, nak.. Nanti kamu kenapa-napa..”, kata sang ibu kepada anak gadisnya, yang bernama Melody. “Ga mau, ma. Melo ga takut, sama papa sekalipun, karena papa jahat sama mama!”, jawab anak tersebut sambil memeluk sang ibu yang takut, kalau-kalau si ayah yang sudah kehilangan kesadarannya akibat mabuk akan meyakiti putrinya juga seperti dirinya sendiri, dan dia tak mau itu terjadi. “BANYAK BACOT LU BERDUA! NIH, GUA KASIH TIKET GRATIS! NIH TIKET BUAT PERGI KE NERAKAAA!! MATI LUUUU!!”, teriak laki-laki itu sambil mengangkat tongkat yang ada di dekatnya mengambil ancang-ancang untuk memukul kedua orang yang berada di depannya.
****

*KRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINGGGG!!!!!*, bel yang ada di samping ranjang Melo berbunyi, menandakan kalau waktu sudah menunjukkan pk 05.30 WIB. Melo baru terjaga dari tidurnya, lalu segera bangun, mematikan wekernya yang terus berbuyi dengan nyaring, dan melihat keadaan. “Mimpi.. buruk.”, katanya pada dirinya sendiri, merasa lega ternyata itu semua hanyalah mimpi semata. Melo baru saja memimpikan hal yang paling buruk yang pernah terjadi dalam hidupnya, dimana ayahnya baru saja bangkrut dan mulai mabok-mabokan, lalu mulai menyiksa Melo dan mamanya. Dimana setelah 3 hari berlalu mereka memutuskan untuk kabur dari rumah yang penuh penyiksaan itu, dan mama dan Melo menumpang sementara di rumah nenek yang baru saja pindah. Jadi kemungkinan besar kalau ayah Melo tidak akan tau dimana mereka berada, namun tak perlu terlalu was-was juga. Toh, dia juga tak akan susah-susah mencari 2 orang hanya untuk disiksa saja.

“Meloo.. Melo sayang, sudah bangun belum? Sarapannya udah jadi, nih. Turun yuk..”, panggil mama dari bawah. Maka Melo segera beranjak dari ranjangnya dan mencuci mukanya yang masih kusut, dan sedikit ketakutan, agar mama tidak cemas. Saat Melo sudah di bawah mamanya sudah menunggu di meja makan. Lalu Melo menghampiri mamanya dan mencium pipi sang ibu, “Good morning mama.”, sapa Melo singkat setelah mencium pipi mamanya. “Good morning, dear. Nih ayo makan rotinya, ini ada selai kacang yang enak kemarin mama beli di dekat kantor. Kesukaanmu ‘kan? Ayo makan, terus nanti ganti baju, terus kita berangkat.”, kata mama kepada Melo. “OK, ma.”, jawab Melo sambil mengoleskan rotinya dengan selai kacang yang dimaksudkan mamanya, memang yang menjadi favoritnya. “Thank you, ma.”, kata Melo, lalu melanjutkan kalimatnya karena melihat mamanya bengong karena tidak mengerti maksud perkataan Melo apa, “Selai, ma.”, kata Melo lagi.

“Oh.. Iya, iya. Sama-sama Mel. Oh, ya, sebelum mama yang udah rada-rada pikun ini lupa bilang ke kamu, hari ini mama pulang agak malem, ya. Hari ini kamu makan indomie aja, ya. Sori Melody, mama belum bisa masak lagi, abis kerjaan lagi numpuk.”, kata mama kepada Melo. “Gak papa, ma. Mama jangan sampe sakit, ya.”, kata Melo kepada mamanya sambil tersenyum kecil. “Nah, udah belum makannya? Mandi gih cepetan, ntar telat, lho..”, kata mama mengingatkan putrinya untuk bergegas, dan dijawab Melo dengan sebuah anggukan kecil, lalu sesegera mungkin menghabiskan rotinya, dan naik ke kamar untuk mandi dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah.

Melo sampai di sekolahnya, SMA Cahaya Nusa yang ada di daerah Karawaci yang cukup dekat dengan rumahnya, cuma perlu jalan kaki selama 15 menit. Baru ia mauk ke kelasnya—X-4—yang ada di lantai 2, langsung datanglah sang biang rusuh, MASFELINA YITRO!! “GOO…..OOD MORNIII…….IIIING!!! MELOOOOO~~ Masih inget janji kita apa, ‘kan??”, kata Feli memberikan sambutan ‘selamat pagi’ dengan bonus plus-plus hari ini, mengingatkan perjanjian sinting yang mereka sepakati kemarin. “Masih.”, jawab Melo sambil melewati sang biang keladi kerusuhan 2010 X-4 yang ada di depan pintu, untuk menuju bangkunya yang ada di barisan ke-4 dari depan (ada 6 barisan). “Jiah elah, Melo.. Masa lu ga semanget gitu bakal dapet cowo?”, kata Feli kepada Melo (dengan suara yang terlalu keras, tapi yang ada di depannya ga nyadar, yang ngomong apalagi). “Cape. Ngantuk.”, jawab Melo sekedarnya.

“WUUUUUAAAAH!!!! Tadi lu bilang apa, Fel? Melo mau dapet cowo…?? Bintang jatoooohh….”, kata Clarisca, salah satu teman sekelas mereka yang cocok banget sama Feli, karena sama-sama sarap. “Ooohh iya donk.. Siapa dulu strategy masternya? Gue gitu..!! Nih, jadi awalnya gini lho.. Gue bilang gue bakalan dapet 100 di ujian royal nanti. Nah si Melo ga setuju, dia bilang impossible! Jadi gue bilang ke dia, kalo gue dapet 100 dia bakalan jadian sama 1 cowo!! Melo janji kalo gue yang menang dia bakal jadian sama 1 cowo!! Jadian!! MELLLOOOOOOO~~ Udah ada saksinya si Keidy, yang bakal liat tuh orang yang dipilih si Melo cowo apa cewe. Hehehehe… dan karena gue baek, gue kasih pilihannya bebas… Makanya kita perlu saksi. Gitu lho… Gimana? Perfect ga tuh? Excellent kan? Feli gitu lho…”, kata Feli menjelaskan panjang lebar mentok kanan mentok kiri, atas nabrak bawah nabrak kepada semua orang yang penasaran kok bisa-bisanya si Melo, the walking statue, jadian sama cowo. Padahal udah terkenal, KAO ADA COWO MACEM-MACEM DI DEPAN MELO, tinggal nyanyi ‘Bye Bye’nya Mariah Carey aja..

“Hah??!! Keidy yang 1 taon lebih tua dari kita itu?? Yang sekolahnya di bagian internasional, kan? Ya ampuuuun…. Lu kenal dia?? Dia kan cakep dan imuuut banget!! Katanya dia juga suka ngelucu!! Aduuuuh… Feli, kenapa lu ga bilang lu kenal dia? Kenalin dooonk…”, kata Luccy, salah satu anak-anak sarapnya kelas X-4 ini disusul dengan semua anak-anak cewe yang pengen ikut kenalan sama si KOKO KEIDY ini. “Nyesel.”, kata Melo tiba-tiba, membuat 5 anak yang ada di sekelilingnya (Feli, Luccy, Clarisca, Krisanna, dan Joshie) bingung. “Nyesel? Nyesel napa, Mel? Nyesel karena yakin gue bisa dapet 100?”, tanya Feli tiba-tiba. “Luccy bakal nyesel kalo kenalan sama orang kayak Keidy.”, kata Melo, lalu berlalu pergi untuk mencuci mukanya, karena merasa ngantuk.

“Hah? Kenapa nyesel? Melo emang ga waras deh… Cowo sebaek itu dilewatin… Kadang gue sebel sama Melo. Apaan sih, kok kalo kita lagi ngomongin cowo dia selalu aja nimbrung yang ga enak-ga enak. Kalo emang dia ga suka sama cowo ya ga usah bikin rusak suasana, donk! Iiiihh.. Nyebelin!! Lagian gue kira dia lesbi, tau. Masa sampe umur segini dia ga pernah jadian sama cowo manapun? Jangankan jadian suka sama cowo aja ga pernah? Iiiiihhhh….”, kata Clarisca. “Emang lesbi kali tuh anak!”, kata Krisanna menambahkan, lalu semua anak perempuan yang tadi mengerubungi tempat itu tertawa terbahak-bahak, kecuali….Feli.

“Heh! Ga usah ngata-ngatain Melo, ya lu semua. Lu semua kan ga tau alesan Melo itu apa! Ga usah menghakimi gitu, deh.. Kalo emang lu suka ngatain dia dan ngomongin dia pas orangnya lagi ga ada, berarti yang muna itu lu semua tau!!”, sahut Feli tiba-tiba, membela teman baiknya yang dia tau, benci lelaki karena sifat buruk ayahnya dulu. “Ga usah sok ngebelain si Melo, deh, Fel. Jangan-jangan lu yang muna?! Reze banget jadi orang.. Dasar lu! Kurang ajar, ngatain kita muna! Lu tuh yang munaaa!! Udah tau dia benci cowo, kenapa lu nantangin dia buat jadian sama satu cowo? Berarti intinya lu yang muna, kan?”, kata Joshie, cewe yang terkenal tebal make-up setiap sekolah, dan roknya paling pendek satu sekolah, dan paling sering gonta-ganti cowo.

“Heh!! Ondel-ondel salah tempat, ga usah nyari ribut, ya lu!! Gue gampar sekali juga idung lu mengok!!”, teriak Feli marah, temannya di ejek-ejek oleh orang yang paling menyebalkan di sekolah itu, ralat deh…PALING NYEBELIN YANG PERNAH FELI TEMUIN!! “A..Apaan sih??!! Nyebelin banget lu?! Kurang ajar!!”, kata Joshie seraya mau memukul Feli dengan tas (kantong) yang isinya peralatan make-up. Baru saja Feli ingin lari atau menghindar, tiba-tiba sebuah tangan yang halus dan nampak berseni mencengkram lengan Joshie keras. Joshie mencoba meronta sekali dan gagal, dia menengok untuk melihar siapa pelakunya, ternyata itu……Melo. Dan Melo ga dateng sendiri, dia diikuti seorang cowo tinggi nan imut dengan rambut pendek yang acak-acakan dengan senyumnya yang lucu.

“Uweee… Gile. Pagi-pagi buta gini, udah ada yang ribut aje… ga seru ah, masa junior gue berantem mulu pagi-pagi pula… Ckckckckck….”, kata Keidy yang dateng buat nganterin soal latihan Melo dan Feli yang kemaren dikerjakan. “Ke..Keidy!”, panggil Feli kaget. “Hehehehe… Good morning lil’ sis.. Nih hasil latian lu kemaren. Hahaha… As I though you must learn more than all these to got a full marked dear. You want to make Melody in a relationship with a boy, right? You must learn and study pretty hard, ya know.. Hahaha…”, kata Keidy seraya mengacak-ngacak rambut Feli dan memperlakukannya seperti adik kecilnya dan disambut hangat oleh Feli yang memang pengen punya kakak.

Baru saja dia ingin meranjakkan tangannya ke kepala Melo, Melo sudah memberikan tatapan mautnya yang menandakan kalau dia tidak mau dielus-elus. “I..Iya Mel.. Iya… Ini gue mau kasih ini doank kok. Hehehe… Nih.. All Full Marked….. As I thought you smart girl. Always brilliant! Hehehe.. Bye…”, kata Keidy, lalu berlalu pergi ke pintu keluar. Semua anak cewe yang ada disitu, apalagi yang merupakan penggemar rahasianya Keidy, bengooong…. Yah, walaupun menurut Melo Keidy agak-agak freak, apalagi kalo lagi les teori, sebenernya Keidy tuh emang cakep, diatas rata-rata, dan tentunya terkenal booo… Baru aja para fans rahasia Keidy mau teriak heboh-hebohan, eeeeeehhh…. Datenglah guru sejarah yang menjadi pelajaran pertama di hari Jumat ini. Dan tentu saja, Pak Rentra, si guru Pitecanthorupus Erectus, karena paling demen nerangin begituan, yang GUALAK kaya anjing lepas kandang membuat anak-anak spontan balik ke tempat duduk masing-masing. Abis kalo Pak Rendra marah sampe si kepala sekolah—Pak Plontos—aja takut, cuma bisa iya, iya, ngangguk-ngangguk gaje.  

Tentunya sepanjang hari ini gengnya Joshie berperang dingin dengan Melo dan Feli. Makanya Feli dan Melo pengeeeeeen banget hari ini cepet selesai, cape tau bersitegang sama geng yang paling populer di sekolah!! Makanya waktu jam menunjukkan pk 15.15, rasanya mereka udah kayak tawanan yang akhirnya dibebasin setelah 15 tahun. Melo pulang jalan kaki lagi panas-panas begini, sedangkan Feli enak dianterin naek mobil, padahal sebenernya jarak rumah Melo dan Feli ga beda jauh kok. Cuma beda komplek perumahan yang jaraknya ga nyampe 10 menit naek mobil, tapi emang keluarga Feli emang kaya sih, jadi kemana-mana pake mobil. Melo sering ditawarin buat ikut naek mobil sampe ke rumah, tapi Melo selalu nolak. Dia emang anaknya suka ga enakan hati sih…

Rumah Melo terletak di Perumahan Blue Rhapsody, sedangkan rumah Feli di Perumahan Chrysantenum. Letaknya berdekatan, berada di daerah Karawaci. Perumahan Blue Rhapsody adalah salah satu perumahan untuk bagian menengah keatas yang cukup elit dan mahal. Melo dan mamanya memang tidak kaya, semua serba pas-pasan, hal utama yang membuat mereka seperti itu bukanlah karena jenis pekerjaan mama. Jenis pekerjaan mamanya—Bu Jachinta, mempunyai gaji yang cukup tinggi karena Bu Jachinta sekolah sampai sarjana S2. Namun sebenarnya itu karena Bu Jachinta mau putrinya belajar berbagai macam hal agar dapat bertahan hidup di ganasnya persaingan hidup masa kini dan masa depan karena persaingan tersebut akan semakin menjadi ganas sembari bertambahnya waktu.

Rumah di perumahan itu sendiri adalah rumah yang diberikan dari pihak kantor untuk Bu Jachinta yang menolak hak kantor mobil (toh kalo dapet mobil ga bakalan kepake, ga ada yang bisa nyetir) dan menggantinya dengan hak rumah tinggal dari kantor, dan dikabulkan karena peforma kerjanya baik. Maka itulah sekarang mereka tinggal di perumahan ini. Perumahan Blue Rhapsody sangat nyaman dan homey, banyak taman yang penuh bunga dan tanaman yang teratur dan rapih sekali, juga ada sebuah danau yang biasanya bersih dan tidak ada hewan. Sedangkan ada sebuah danau lagi yang memang dikhususkan untuk hewan.
Melo lebih senang pergi ke danau yang tidak ada hewan, dan hari ini dia pasti melewati tempat itu lagi. Karena untuk pulang harus melewati akses tersebut. Melo sedang menerawang langit biru yang berawan tipis, “Blue is a comfortable co—”, ucapannya terhenti ketika ia dikejutkan oleh suara air yang keras, sepeti ada sesuatu yang besar terbanting ke dalam air. *BYUUUUUUUURRR!!!!*. Melo bisa melihat seorang pemuda dalam balutan kemejanya lagi meronta-ronta di dalam air, sambil memegang sesuatu yang tidak jelas apa karena banyak cipratan air. Melo baru saja ingin pergi, namun pemuda itu nampak seperti tenggelam….jangan-jangan….COWO ITU GA BISA BERENANG??!!!

Kamis, 25 November 2010

Rantai Nada, Rantai Cinta ~Tangga nada kehidupan~: Rantai Nada, Rantai Cinta ~Tangga Nada Kehidupan~ ...

Rantai Nada, Rantai Cinta ~Tangga nada kehidupan~: Rantai Nada, Rantai Cinta ~Tangga Nada Kehidupan~ ...: “Gedubrak!! Ayolaaaahhh… Kasih tau donk… Penasaran niiih… Me~Lo~~ ayo doonk.. ...".. Feli ingin banget tau siapa sih, cowo yang mungkin disukai Melo si Sarjana Benci Lelaki?? Melo yang mulai ... bosen... akhirnya menerima tantangan Feli yang mengatakan, kalau Feli berhasil mendapatkan nilai sempurna, maka Melo akan jadian dengan 1 cowo... Walah? berhasilkah Feli menumbangkan kebencian Melo terhadap para kaum adam??

Rabu, 24 November 2010

Rantai Nada, Rantai Cinta ~Tangga Nada Kehidupan~ Part 1, Do...

Rantai Nada, Rantai Cinta

~Tangga nada kehidupan~  

~1~ Do..

“Gedubrak!! Ayolaaaahhh… Kasih tau donk… Penasaran niiih… Me~Lo~~ ayo doonk.. Baek deh.. penasaran berat nih… Siapa siiih?”, tanya Masfelina—Feli—kepada Melo—Melody dengan (agak) memaksa. Sedangkan si ‘terdakwa’ tenang-tenang aja ngehadapin si none bawel nan sotoy satu ini. Melody, yang dari tadi ditanyaiiiiin melulu sama Feli tentang hal yang sama udah sampe bosen. Pertanyaanya adalah : SIAPA COWO PERTAMA YANG MELO SUKA..? Kenapa siih? Pengen tau amad dah?

Ya iyalaaah.. Satu RT juga tau. Melo tuh rajanya cuek. Kalo orang yang dicuekin sama dia dan akhirnya kejebak, Melo pasti bakal balik badan terus senyum evil. Apalagi sama cowok.. Melo udah kayak ga nganggep mereka orang. Kata Melo, “Cowok tuh otaknya mikirnya lama, kalo udah gila-gilaan olah raga pasti keringetnya banyak dan bau. Menurut logika cowok itu harusnya lebih diem karena kosa katanya Cuma ±7.000/hari. Tapi sekarang malah kebalik, cewek yang kosa katanya ±10.000/hari malah lebih diem, sedangkan cowok-cowok itu lidahnya atau mulutnya kayak kebakaran. Kalo ga ngomong ga idup.”, begitulah definisi ‘singkat’, (terlalu) jelas, dan ke—padat—an (terlalu padat maksudnya) soal makhluk yang bernama ‘cowok’ oleh Prof. Dr. Ir. Melody Scarlett. SBL (Sarjana Benci Lelaki)

“Feli, sekarang lagi pelajaran teori musik! Ayo, ah! Kamu tuh udah grade 6 tau! Emang kamu udah afalin performance direction yang ada di buku semuanya? SE-MU-A-NYA..! Ujian royalnya tuh tinggal 2 bulan lagi tau! Yang bener lah.. Mahal-mahal gitu kalo kamu ntar gak lulus gimana? Taon lalu kamu kan dapet gelarnya ‘pass’ tau. Hampir pas-pasan. Kalo Melo cici ga takut. Taon lalu dia dapet full mark?! Tenna, Venna, sama Keidy dapet distinction, eh.. si Aruna dapet Merit. EEEHHHH!! KAMU ANEH-ANEH??!! PAAASSS!!!!”, kata Ci Meira, guru teori piano Feli dan Melo menegur Feli lantaran gemas dan cemas sama muridnya yang satu ini, ga pernah serius. “Kalo ga lulus yaaaahhh udah dehh.. Hehehe…”, jawab Feli gak pedulian. “Feli kalo lulus yah syukur puji Tuhan…”, kata Tenna, salah satu teman mereka. “Alaaaah… Jahat amat lu, Ten. Liat nih gue dapet nilai 100 nanti!! Yakin deh gue.. 100%! Wuahahaha…”, jawab Feli nyantai dan…nampak meremehkan ujian royal..

“Dunia kebalik.”, sahut Melo tiba-tiba. Lalu diam sesaat karena semua yang ada di situ : Ci Meira, Feli, Aruna, Tenna, Venna—saudara kembar Tenna—, dan si cowok satu-satunya—Keidy— malah bengong…  Nampaknya mereka semua ga ada yang connect, melainkan mereka semua janjian loading dulu. “Ha..Hah? Apaan dunia kebalik, Lo?”, tanya Keidy bingung (banget). “Lagi ngomongin kiamat, ya?”, sahut Aruna lagi. Sedangkan Venna dan Tenna masih bengong, juga Feli. “Kalo Feli dapet 100 di ujian royal nanti berarti dunia udah kebalik.”, jawab Melo tenang, innocent, tanpa ekspresi, dataaar sambil mengerjakan soal-soal latihan untuk mempersiapkan ujian yang ada 4 tahun (1 tahun ada 4 macam soal, A,B,C,D) di depannya.

Lagi-lagi…computer loa—.. eh salah, maksudnya brain loading…. “BUAHAHAHAHAHAHAHAHA!!! Aduh Melo, sumpeh yang ini jahad banget! Bahkan lebih jahat dari yang pernah lu omongin ke gue… Wahahahaha!!!!”, kata Keidy ketawa dengan hebohnya sampe nangis. Disusul secara tiba-tiba oleh Venna dan Tenna plus Aruna, “Wakakakakakakakakakkk… Lu emang sarap Mel, ampe kencing gue.. Lucu banget! *GUBRAAK!!* Aduh! Pantat gue.. sakiiit… Wuakakakakakak!!!”, kata Aruna ngakak gila sampe jatoh dari kursi.

Sang ‘bahan ejekan’ cuma bisa pasang tampang blo’on. Bengong juga ke temennya yang barusan ngomong kalo dia mustahil dapetin nilai 100 di ujian nanti dengan bahasa yang lain (maksudnya harus di kaji atau diserap ulang dulu). Melo emang udah punya trademark yang nemplok ga ilang-ilang, mulutnya itu kalo ngomong kayak keris. ‘JLEB! JLEB! JLEB!’ deh kalo Melo udah buka suara. Nanceeeeepp ajegile.. Nyelekit, dan pedes.. Sampe terasi aja kalah pedes coba.. Luar biasa…Bukan.. LUAR BINASA!   

“Sem..Sembarangan lu, Lo… Enak aja.. Yang kali ini gue yakin gue bisa!”, kata Feli (tumben) GAK TERIMA perkataan Melo mentah-mentah (padahal dalem hati dia mikir-mikir juga, abis nilai ujian dia di tempat les aja ga ada yang lebih dari 80 mentok), “Kalo gue berhasil dapet 100 lu mesti melakukan sesuatu buat gue!”, kata Feli lagi, menantang Melo. “Hmm?”, sahut Melo cuek bebek tanpa menengok, tetap FOKUS pada lembar latihannya. “Lu..mesti berhasil jadian sama satu cowo, NO MATTER WHAT!! Seterah lu deh tuh cowo siapa.. Yang penting 100% cowo! Ntar gue suruh Keidy sebagai satu-satunya saksi cowo disini buat meriksa apakah makhluk yang nanti lu pillih 100% LELAKI SEJATI!! Okokokok? Ayolah..Melody Scarlett ‘kan bukan cewe pengecuut.. Meloooo…~~  Katanya dunia kebalik, berarti lu yakin 100% donk.. Iya kan? Iya kan?”, kata Feli berani menantang Melo untuk melakukan hal yang mungkin resikonya adalah HAL YANG PALING GILA YANG PERNAH MELO LAKUKAN… JADIAN (sama cowok tentunya)!!

Bayangin.. Melo udah 16 tahun, tahun ini dia sama Feli baru masuk SMA. Tapi..Melo beda banget sama Feli yang udah hobi gonta-ganti cowo dari kelas 5 SD. Emang semua orang juga bingung, Feli adalah satu-satunya orang yang tahan sama omongan Melo yang kacau balau ga karuan tajemnya. Dan Melo punya 1 kendala lagi, MELO HATES BOYS!! Dari dulu Melo paliiiiing males kalo disuruh berurusan dengan kaum adam. Abis mereka lebih suka main, lebih suka senang-senang, lebih suka males-malesan, dan lebih suka TAU JADI DOANK. KEENAKAAAAN… Melo juga sering mendengar soal penindasan kaum wanita oleh para laki-laki. Mentang-mentang tubuhnya lebih kuat jadi merasa bossy? Melo paling benci hal macem gitu, apalagi dia juga merasakan dan liat sendiri. Papanya yang udah mereka tinggalin karena dulu sering banget mukulin dia dan mamanya, dan mereka memilih untuk kabur daripada keburu kehilangan nyawa.

Makanya Melo jadi lebih ‘menghayati’ dan lebih mengerti gimana perasaannya mereka-mereka yang senasib sama dia. Melo juga mau membuktikan kalo cewek juga bisa jadi lebih baik dari cowok dalam adu kekuatan sekalipun. Melo berusaha untuk mengejar segala sesuatu, mulai dari pelajaran, musik, olah raga, lukis, dan BELA DIRI tentunya. Dimana Melo memilih bela diri yang memakai pedang kayu, kendo. Karena itu Melo sebenernya males kalo memikirkan resiko yang harus ditanggungnya kalau-kalau si Feli kesambet petir 1000 watt yang ternyata isinya ilmunya Mozart dan mendadak pinter teori musik yang bakalan nyanyi ‘THIS IS THE END’ kan Melo.

Tapi emang dasar si Melo, like her name. Mellow.. Just say ‘yes!’ to all problems. “Ok”, jawab Melo lagi-lagi singkat, padat (banget), sayangnya ga jelas… Dan lagi-lagi loading dulu semuanya, sampe Ci Meira mulai ‘engeh’ maksudnya si Melo apaan. “Maksudnya Melo terima tantangan Feli. Ya, Mel?”, kata Ci Meira mencoba menerka-nerka maksud perkataan Melo. “Hhm. Yang normal cuma Ci Meira doank disini.”, sahut Melo sambil memandang Ci Meira sebentar lalu kembali berlalu ke kertas soalnya yang sudah tersisa 7 lembar dari 64 halaman, sedangkan yang lain dari tadi cuma bengong dan cengo, loading, sambil ngomong “Hah?” ; ”Apa?” ; ”What the..?” ; dan tentu aja ngakak-ngakak kayak orang kemasukan setan uler betina. 

“…..Bener nih Mel? Yakin luu? Ga nyesel yaaaa…”, tanya Feli meyakinkan kalo kupingnya ga kebanyakan kotoran sampe dia rada-rada budeg gitu, dimana dia denger kalo Melo mau terima tantangan gilanya dia, yang dia tau, bahwa Melo benci banget. Feli ga kebayang kalo dia bisa punya kesempatan buat bikin si patung berjalan ini punya cowok!! WWWWOOOOOOWWW!!! Keajaiban.. “Jadi lu yakin bakalan dapetin co—”, baru saja Feli mau melanjutkan ocehannya sampai dia menerima jitakan dasyat dari Ci Meira dengan gulungan soal yang sudah dikerjain sama Melo.

“Pulang dulu. Bye.. Thanks Ci.”, kata Melo seraya beranjak ke pintu depan ruangan. “Woi…Mel.. Mau kemane lu? Emang udah selesai? Maen pulang, pulang aja.. Curang.”, kata Feli memanggil Melo yang hendak pulang, sedangkan dia belum menyentuh sedikit pun gara-gara kejadian-kejadian autis tadi. “Tuh, liat aja ndiri, Fel..”, kata Aruna sambil menunjuk ke arah segepok pekerjaan yang udah selesai dengan nama Melody Scarlett di tangan Ci Meira. “Tapi gue bilang lu sih parah lu. Gue aja udah selesai 1 taon punya. Lu? Jiah, gedubrak, baru nyampe 2 soal..”, kata Aruna sambil geleng-geleng melihat pekerjaan Feli.

“Tau nih.. Cacad… Gue aja udah selesai 3 taon punya malah. Ga kebanyakan ketawa siih.. Abis gue ga ngerti apa-apa. Dari tadi cuma he-eh, he-eh, iye, iye, aja gue. Makanya, contohlah anak baik seperti saya ini..”, kata Keidy sambil membusungkan dadanya dan menunjuk dirinya sendiri, uehem! BANGGA (sebenernya ini juga ada beberapa yang diem-diem nyontek dari buku waktu Ci Meira lagi sibuk marain Feli)! “Anak baek tuh kayak begini, bang. Tuh liat, si Venna udah selesai 4 eksemplar”, sahut Tenna sambil menunjuk kearah saudara kembarnya yang sama-sama gila tapi lebih pinter dari dia dalam beberapa hal. “Yang lebih dasyat lagi si Melo udah ngibrit pulang naek sepeda, noh liat ke bawah. BYE BYE MELOOO…!”, teriak Venna sambil menengok dan membuka jendela untu memanggil Melo. Melo hanya berbalik lalu melambaikan tangannya.